Friday, April 8, 2011

Majalah 'TIME' Menyebut Bali Sebagai Pulau Neraka Sampah

1. Tumpukan sampah berserakan di sepanjang Pantai Kuta.

Pantai Kuta Penuh Sampah

2. Wisatawan asing keluhkan Pantai Kuta yang kotor dan penuh sampah.

Pantai Kuta Penuh Sampah

3. Wisatawan tetap menikmati pantai di tengah tumpukan sampah.

Pantai Kuta Penuh Sampah

4. Ribuan ton sampah menyerbu Pantai Kuta sejak Desember 2010 hingga April 2011.

Pantai Kuta Penuh Sampah

5. Petugas dan pedagang membersihkan sampah di pantai setiap hari.




Berikut Ulasan Artikel Majalah Time Tentang Bali
1. Time Sebut Bali 'Pulau Neraka', Ketua Bali Tourism Board Tersinggung
Ketua Bali Tourism Board (BTB), Ida Bagus Ngurah Wijaya mengaku tersinggung atas pemberitaan majalah Time yang menyebut Bali sebagai 'Pulau Neraka'. Ia mengatakan, pemberitaan itu juga tidak memenuhi unsur jurnalistik.

"Tulisan itu membuat kita tersinggung dan jengah. Mari kita bersama-sama menjaga Bali ini tetap menjadi tujuan wisata dunia," katanya. Ia mengaku sekitar dua tahun lalu, kalangan pariwisata Bali sudah menyampaikan permasalahan seperti sampah dan kemacetan sebagaimana ditulis Andrew kepada Gubernur Made Mangku Pastika.

"Gubernur sendiri sudah mengambil langkah. Tetapi memang butuh waktu untuk menyelesaikan hal itu," ucap Ngurah Wijaya. Kendati begitu, Ngurah Wijaya mengaku optimis pemberitaan tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap industri pariwisata Bali.

"Kami tidak terlalu khawatir terhadap pemberitaan tersebut. Tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pariwisata Bali," ujarnya.
peta bali
Untuk diketahui, Majalah Times membuat laporan khusus mengenai liburan di Bali yang ditulis oleh Andrew Marshall. Dalam laporan berjudul "Holidays in Hell: Bali?s Ongoing Woes" tersebut, Andrew menulis bahwa anda akan merasa seperti di neraka jika pergi berlibur di Bali.

Karena, selain sampah membludak di Pantai Kuta, Andrew juga menyebut limbah sudah mencemari pantai di Bali. Selain itu juga kemacetan juga terjadi dimana-mana. Bahkan, kemacetan yang terjadi di Bali sudah seperti kemacetan yang terjadi di ibu kota negara itu, Jakarta.

Ia juga menulis bahwa Surat Edaran (SE) Gubernur Made Mangku Pastika terkait moratorium pembangunan pariwisata di Kabupaten Badung, Gianyar dan Kota Denpasar tidak pernah dilaksanakan.

2. Disebut 'Pulau Neraka' Oleh Majalah Time, Pemprov Bali Meradang (Bagian 1)
Pemerintah Provinsi Bali menyesalkan pemberitaan Majalah Times edisi 1 April 2011 yang menulis bahwa "liburan di Bali ibarat berlibur di neraka (holidays in hell)", kata Kepala Biro Humas dan Protokol Bali Putu Suardhika.
tampilan artikel yang menyebut bali pulau sampah oleh majalah time

"Pemberitaan tersebut melecehkan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Bali tetap pulau surga yang aman untuk dikunjungi. Tidak benar berlibur di Bali seperti di neraka," katanya di Denpasar, Selasa.

Suardhika mengakui jika persoalan sampah sebagaimana ditulis majalah bulanan tersebut memang menyisakan persoalan bagi pariwisata Bali. Hanya saja, ia menyesalkan pemberitaan tersebut hanya menohok pada wilayah Bali bagian selatan, khususnya Kuta.

"Bali ini bukan hanya Kuta dan Nusa Dua. Bali ini luas, meski wisatawan mancanegara lebih mengenal kedua wilayah tersebut. Tetapi, persoalan sampah sebagaimana disebutkan itu, sedang dalam tahap penanganan serius Pemprov Bali," kata Suardhika, yang mengaku apa yang dikatakannya merupakan statemen Gubernur Bali Mangku Pastika.

Dalam kerangka itu, kata Suardhika, Pemprov Bali sudah mendeklarasikan "Bali Clean and Green" untuk menuju "Bali Green Province". Ia mengatakan, ada tiga hal pokok dalam program itu yaitu, "green cultural, green economic serta clean and green.

Berkaitan dengan pemberitaan oleh majalah terbitan Amerika tersebut, Suardhika juga menampik persoalan kemacetan yang terjadi di Kuta disamakan dengan Jakarta. Pemprov Bali, kata dia, selama ini tidak pernah tinggal diam dan terus mencarikan solusi atas hal itu.

"Contohnya seperti pembangunan jalan 'underpass' (bawah tanah) di simpang Dewa Ruci, dan jalan di atas perairan (JDP) yang menghubungkan Suwung (Denpasar) menuju Nusa Dua (Badung)," katanya.
Selain itu, Pemprov Bali juga merencanakan pembangunan kereta lambat (trem) yang akan menghubungkan seluruh Bali.





3. Inilah Artikel yang Menyebut Bali Sebagai 'Pulau Neraka' (Bagian 2)
Inilah artikel di majalah Time yang membuat Pemprov Bali meradang. Judul artikel itu, 'Holidays in Hell: Bali Ongoing Woes'. Artikel ditulis oleh Andrew Marshall.

Dalam tulisannya, Andrew membahas sejumlah masalah yang melilit Pulau Bali. Pulau yang menurut dia masih menjadi tujuan wisata internasional, bahkan dianggap negara lain di Indonesia.

Namun, Andrew menilai, infrastruktur pulau kurang cepat mengantisipasi perubahan pariwisata Bali. Andrew membuka tulisannya dengan kotornya pantai Kuta, salah satu lokasi wisata paling ramai di Bali.

Musim hujan yang cukup deras di Bali membuat sungai meluap. Alhasil sampah-sampah yang ada di sungai terbawa ke laut. Termasuk kotoran manusia. Sampah-sampah itu lantas berakhir di Pantai Kuta.

Ini membuat awal Maret lalu otoritas Pantai Kuta melarang turis berenang di pantai tersebut lebih dari 30 menit. Khawatir terkena infeksi kulit. Selain masalah polusi di pantai, lanjut Marshall, Bali juga mengalami problem kekurangan air, listrik mati hidup, sampah yang berserakan, drainase, hingga kemacetan serta kriminalitas.

Marshall menyandingkan kemacetan di Bali menyerupai di Jakarta. Sementara soal kriminalitas yang menyasar ke turis asing, sejak Januari lalu Polda Bali, menurut Marshall, menerapkan tembak ditempat bagi kriminal.

Menurut Marshall, salah satu masalah utama Bali adalah kebanyakan turis. Pada 2001, Bali didatangi 1,3 juta turis asing. Sepuluh tahun kemudian, meski sudah ada Bom Bali I dan II, turis yang datang ke Bali melesat mencapai dua juta orang per tahun. Ini belum terhitung jutaan turis lokal.

Dampak dari turis ini adalah pembangunan infrastruktur yang marak. Hotel dan pusat belanja tiba-tiba muncul di mana-mana. Sebaliknya, pembangunan ini kurang memperhitungkan infrastruktur pendukung seperti jalan, listrik, selokan, parkir. "Infrastruktur Bali tidak bisa menyamai laju pembangunannya," kata Ron Nomura, direktur Marketing Asosiasi Hotel Bali.

4. Disebut 'Pulau Neraka', Bali Seperti Pulau yang Bunuh Diri Pelan-pelan (Bagian 3)
Artikel soal Bali di majalah bergengsi Amerika Serikat, Time, membuat Pemprov Bali meradang. Artikel berjudul 'Holidays in Hell: Bali Ongoing Woes' itu membahas sejumlah masalah pembangunan yang melilit Pulau Bali.

Penulis artikel, Andrew Marshall, sempat bertanya pada wartawan lokal, Wayan Juniarta, terkait keadaan di Bali. Bali, seakan sudah berpuas diri dengan situasi saat ini. Bahwa mereka masih jadi tujuan wisata dunia dan pembangunannya pesat. "Bali seperti sedang perlahan-lahan membunuh dirinya sendiri," kata Juniarta.

Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, bukannya tidak bertindak terhadap situasi di Bali. Pastika bahkan mengeluarkan moratorium konstruksi di sejumlah daerah di Bali. Ia khawatir Bali akan menjadi tanah beton dan bangunan ketimbang pulau dewata.

"Tapi beberapa pihak di Bali menganggap Pastika ingin memperlamban pertumbuhan ekonomi Bali. Ini tidak benar. Apa yang Pastika lakukan adalah menyadarkan orang Bali mereka harus membangun dengan bertanggungjawab," kata Ron Namura, direktur Marketing Asosiasi Hotel Bali.
Pantai Kuta Penuh Sampah

Setelah masalah padatnya bangunan di Bali, muncul pula masalah kemacetan. Marshall menyoroti jalan-jalan di Denpasar yang kini penuh sesak kendaraan. Bahkan di Ubud sekalipun. Ubud yang tadinya sepi sekarang penuh oleh bus yang membawa turis-turis asing.

Pertumbuhan kendaraan di Bali memang menakjubkan. Rata-rata per tahun bertambah 12,42 persen. Sementara panjang jalan hanya bertambah 2,28 persen. Sangat tidak sebanding. "Kemacetan di Bali akan bertambah parah dan parah," kata I Made Santha, pejabat lalu lintas Bali.

Masalah keamanan juga menurut Marshall sangat disoroti oleh turis asing. Awal tahun ini, Lusiana Burgess (46 tahun) dibunuh di rumahnya di Kuta utara. Hingga kini pembunuh Burgess belum tertangkap.
logo time magazine

Turis perempuan asal Australia juga dirampok di vila yang ia sewa oleh empat orang. Lainnya, warga AS ditusuk di Kuta saat dirampok. Sepekan setelah penusukan ini, polisi menembak mati M Syahri asal Lombok, yang diduga merampok sejumlah turis asing.

Australia, selaku negara pengekspor turis terbanyak ke Bali, pun tidak bisa berbuat banyak. Padahal Australia kerap memperingatkan warganya untuk berhati-hati ke Bali atau waspada bila sudah di Bali terkait serangan teroris. Namun tiap pekan ada lebih dari seratus pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai.

"Terminal baru di Bandara Bali akan selesai pada 2013. Tapi bila tidak ada perbaikan infrastruktur lainnya, ini hanya akan menambah kritis kondisi Bali," kata Marshall.

Berikut Versi Asli Majalah Time



The annual monsoon transforms Bali. Rain sweeps across slumbering volcanoes. Moss thickens on ancient temple walls. Rivers swell and flush their trash and frothing human waste into the sea off Kuta Beach, the island's most famous tourist attraction, where bacteria bloom and the water turns muddy with dead plankton. "It happens every year," shrugs Wayan Sumerta, a Kuta lifeguard, who sits with his love-struck Japanese girlfriend amid dunes of surf-tossed garbage. So why, in early March, did the Bali authorities warn tourists that swimming there for over 30 minutes could cause skin infections? The lifeguard tenderly strokes his girlfriend's naked leg. "I guess some people just have sensitive skin," he says.

Itchy ocean? Just add it to Bali's growing list of seemingly intractable problems: water shortages, rolling blackouts, uncollected trash, overflowing sewage-treatment plants and traffic so bad that parts of the island resemble Indonesia's gridlocked capital Jakarta. And don't forget crime. In January, amid a spate of violent robberies against foreigners, Bali police chief Hadiatmoko reportedly ordered his officers to shoot criminals on sight. You've heard of the Julia Roberts movie Eat Pray Love, which was partly filmed in Bali? Now get ready for its grim sequel: Eat Pray Duck. (Read about Bali's travel boom.)

Most of Bali's woes stem from a problem that rival resorts would love to have: too many tourists. In 2001, the island welcomed about 1.3 million foreign visitors. Ten years later — and despite bombings by Islamic extremists in 2002 and 2005 that killed 222 people, mostly Australian tourists — the island expects almost twice that number. And there are millions of Indonesian visitors too.
Hotels, shopping centers and restaurants are springing up everywhere to accommodate them. The cranes looming over Kuta are building at least three malls and a five-star hotel. But the less glamorous stuff — roads, power lines, sewers, parking spaces — often remains an afterthought. "The infrastructure is not keeping up with the development," says Ron Nomura, marketing director at the Bali Hotels Association. The island's lack of reservoirs, he says, is a case in point. "Can you believe there is this much rain and we don't have enough water?" (See "The Best of Asia 2010.")

When it comes to Bali, newspaper editors have a seemingly bottomless stock of "Paradise Lost?" headlines. Its rich Hindu culture is so distinctive that many people mistake the island for a separate country rather than a province of the world's most populous Muslim nation. That Bali's tourism industry has survived terrorism attacks and a global recession is a cause for pride. But amid unchecked growth and a creaking infrastructure, it is also a source of complacency. "It's like Bali is slowly committing suicide," says local journalist Wayan Juniarta.

Bali's Governor I Made Mangku Pastika knows it. In January, he issued a moratorium on new construction in certain built-up areas, and later warned that his lush birthplace might turn into a "dry land full of concrete buildings." Pastika is popular — he investigated the bombings as Bali's then police chief — but his moratorium isn't. "Some people says he's trying to slow down Bali's growth," says Nomura. "That's not necessarily true. What he's looking for is more responsible growth."

He probably won't find it. Nobody I talked to reckoned that Pastika's measures would influence who built what where. Bali's spiritualism might be a bewildering blend of Hinduism, Buddhism and animism, but the island's planning code is simple: if you build it, they will come.

And on the way, they'll get stuck in traffic. Complaining about the congestion around the airport or in tourist areas like Kuta is now one of Bali's newest pastimes. Even in Ubud, the seat of the island's art and culture, once sleepy streets are clogged with buses carrying Chinese tourists, who visit the island in ever greater numbers. Vehicle ownership on Bali is rising at an annual rate (12.42%) that far outstrips the growth in new roads (2.28%), according to government statistics. "Traffic will get worse and worse," I Made Santha, Bali's traffic chief, predicted in February.

Equally damaging to Bali's prestige is the perception among some expatriates that the island is increasingly unsafe. Lusiana Burgess, the 46-year-old Indonesian wife of a retired British pilot, was robbed and killed in her North Kuta home earlier this year and her murderer remains at large. An Australian woman awoke in her villa to be gagged and assaulted by four thieves. Then an American man was stabbed during another robbery attempt in Kuta. A week after that, police arrested and — following an apparent escape attempt — shot dead 34-year-old M. Syahri, from the neighboring island of Lombok, who was suspected of robbing a number of foreigners.

The statistics actually show a slight decrease in serious crime from 2009 to '10. But Chris Wilkin, a former oil-company executive from the U.K. who retired in Bali six years ago, remains uneasy. "It was very quiet when I moved here," he says. "It wasn't a big attraction for the criminal classes. Now, with the boom, word has got round that there are easy pickings to be had."

Wilkin, whose Indonesian wife rents villas to expats and knew Burgess, believes the threat of violent robbery will discourage foreigners from leasing properties in remote places. Investing in CCTV, intrusion alarms and bedside panic buttons may only "give a false sense of security," he says. Recently, Wilkin accidentally set off his burglar alarm. Nobody went to investigate, not even the private security guards in his own complex. (Read "Indonesia Arrests Cleric Linked to Bali Bombings.")

Expat anxiety hasn't dented Bali's popularity among its core visitors, the Australians. And why should it? Officially, the Australian government still advises its citizens to "reconsider your need to travel" to Bali due to a "very high threat of terrorist attack," yet more than a hundred flights arrive from Australia every week. The dangers to new arrivals are those commonly faced by tourists everywhere: dodgy food, motorbike accidents, and — as a sign at my Kuta hotel suggests ("No Jumping from Any Balcony into Pool Is Permitted") — beer-fueled misadventure.

A new terminal at Bali's shabby airport is due for completion in 2013. But unless other infrastructure is improved, this will serve only to channel yet more tourists onto a critically overburdened island. For now, however, such doubts are largely forgotten in the rush to cash in on the Bali boom. "Goodness shouts, evil whispers," runs an overused Balinese proverb. But money talks.

source